Sen | 06 Jul 2026 |
Indonesian ID English EN

5 Kesalahan Arsitek Saat Mendesain Bangunan, Jangan Diabaikan!

Mendesain sebuah bangunan itu nggak cuma soal bikin estetikanya kelihatan instagramable atau keren pas difoto. Arsitektur itu adalah seni yang mengawinkan estetika dengan fungsi, keamanan, dan kenyamanan jangka panjang.

Banyak arsitek muda—bahkan yang sudah senior sekalipun—kadang terjebak dalam idealisme visual sampai melupakan aspek mendasar. Akibatnya? Bangunan jadi nggak nyaman, boros energi, atau bahkan membahayakan penghuninya.

Biar nggak salah langkah, yuk kita bedah 5 kesalahan yang sering dilakukan arsitek saat mendesain bangunan berdasarkan data dan fakta industri!

1. Mengabaikan Orientasi Matahari (Bikin Bangunan Jadi “Overheating”)

Banyak arsitek terlalu fokus pada fasad depan yang estetik tanpa memikirkan posisi jatuhnya sinar matahari. Di negara tropis seperti Indonesia, salah menempatkan jendela besar menghadap barat bisa jadi bencana.

Menurut data dari Green Building Council Indonesia (GBCI), penggunaan pendingin ruangan (AC) memakan porsi hingga 50%–60% dari total konsumsi energi di bangunan komersial maupun hunian.

Apa dampaknya? Desain yang asal-asalan memasukkan panas matahari berlebih (heat gain) memaksa AC bekerja dua kali lebih keras. Hasilnya? Tagihan listrik membengkak dan emisi karbon meningkat. Arsitek yang bijak harusnya memaksimalkan passive cooling dan shading device.

2. Kurang Memperhatikan Aksesibilitas (Desain yang Diskriminatif)

Pernah lihat tangga masuk gedung yang tinggi dan megah tapi nggak punya ram (ramp) untuk kursi roda? Atau toilet umum yang sempit banget? Ini adalah kesalahan fatal dalam penerapan Universal Design (Desain Universal).

Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO), sekitar 15% dari populasi dunia hidup dengan disabilitas. Di Indonesia sendiri, undang-undang (UU No. 8 Tahun 2016) sudah mewajibkan setiap infrastruktur publik ramah penyandang disabilitas.

Apa dampaknya? Desain yang tidak inklusif membuat bangunan tersebut gagal melayani semua kalangan. Estetika yang mengorbankan aksesibilitas bagi lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas adalah bentuk kegagalan fungsi arsitektur.

3. Meremehkan Aspek Akustik (Estetik Tapi Bikin Budeg)

Tren desain zaman sekarang menyukai konsep industrial atau minimalis dengan lantai beton ekspos, dinding kaca besar, dan langit-langit tinggi tanpa plafon. Secara visual, ini Gen Z banget. Tapi secara akustik? Bisa jadi mimpi buruk.

Material keras seperti kaca, beton, dan ubin memiliki koefisien penyerapan suara yang sangat rendah (sering kali di bawah 0,05, artinya 95% suara dipantulkan kembali).

Apa dampaknya? terjadinya gaung (reverberation) yang parah. Saat diaplikasikan di kafe atau ruang kantor open-space, suasananya akan menjadi sangat bising dan bikin pusing karena suara obrolan saling memantul. Arsitek harus pintar menyelipkan material akustik tersembunyi (seperti panel kain, kayu berpori, atau karpet).

4. Pemilihan Material yang Tidak Sesuai Iklim Lokal

Hanya karena melihat material tertentu bagus di Pinterest atau bangunan di Eropa, bukan berarti material itu cocok dipakai di Indonesia. Kesalahan memilih material biasanya didorong oleh ego visual tanpa riset ketahanan zat.

Indonesia memiliki kelembapan udara rata-rata yang sangat tinggi (bisa mencapai 70%–90%).

Apa dampaknya? Penggunaan material kayu tanpa treatment khusus, atau besi yang rentan korosi di area pesisir, akan membuat bangunan cepat rusak dalam hitungan bulan. Biaya maintenance (perawatan) pun melonjak drastis. Desain yang baik adalah desain yang survive dengan iklim lokalnya.

5. Terlalu Berpatokan pada Tren, Melupakan Fleksibilitas Ruang

Tren desain bergerak secepat fast fashion. Beberapa tahun lalu tren shabby chic booming, lalu geser ke scandinavian, industrial, dan sekarang japandi atau monochrome. Terlalu kaku mendesain ruang demi mengikuti tren saat ini bisa membuat bangunan cepat terasa “ketinggalan zaman”.

Studi dari Royal Institute of British Architects (RIBA) menunjukkan bahwa bangunan yang dirancang dengan konsep ruang fleksibel (adaptable space) memiliki usia pakai 1,5 kali lebih lama sebelum akhirnya direnovasi total atau dibongkar.

Apa dampaknya? Fungsi kebutuhan manusia itu dinamis. Ruang kerja hari ini mungkin jadi kamar anak di masa depan. Jika arsitek membuat sekat-sekat permanen yang terlalu spesifik hanya demi estetika tren sesaat, bangunan tersebut akan sulit beradaptasi dan tidak sustainable.

Ini Harus Dipahami!

Menjadi arsitek yang spektakuler itu bukan cuma tentang seberapa keren portofolio visualmu di media sosial. Arsitektur yang hebat adalah arsitektur yang saat dihuni, orang-orang di dalamnya merasa aman, sehat, nyaman, dan bumi tidak terbebani oleh operasional bangunannya. Function over form, always!

Bagikan Artikel