Dalam rangka memeriahkan Road to Dies Natalis 14 STD Bali (Sekolah Tinggi Desain Bali) dan New Media, HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) Wicwakarma milik Jurusan Desain Interior STD Bali mengadakan talkshow mengenai arsitektur dan desain interior yang bertajuk The Challenge of Local Architecture and Interior Design in Modern Era. Acara yang dihelat pada tanggal 22 Februari 2017 dan bertempat di Sanur Paradise Hotel tersebut menampilkan pembicara Bapak Dr. Ngakan Ketut Acwin Dwijendra, ST., MA, seorang arsitek, urban planner, sekaligus Ketua STD Bali dan Direktur New Media. Selain Bapak Acwin, turut pula hadir Bapak Gede Kresna, seorang arsitek dan pemilik dari Rumah Intaran, serta Ni Kadek Yuni Utami, ST., M.Ds. sebagai moderator.
Acara dimulai sekitar pukul 11.30 WITA dengan doa bersama yang dipimpin oleh MC, Emma Ayu Riana Dewi yang juga merupakan mahasiswi Desain Interior STD Bali. Kemudian disusul dengan masuknya acara inti yaitu talkshow yang dipandu oleh moderator. Bapak Acwin Dwijendra selaku pembicara pertama langsung bangkit dan mulai mencairkan suasana dengan lelucon ringan. Meskipun beliau melakukan presentasinya dengan pembawaan yang ringan namun tidak mengurangi kepadatan materi yang dibawakan. Mengambil judul When Local Meets Global: Bijak dalam Reformasi Arsitektur Lokal di Modern Era, Pak Acwin, begitu beliau akrab disapa, memperlihatkan beberapa bangunan di Bali yang gagal menginfus arsitektur lokal Bali dengan budaya lain. Akan tetapi tak hanya yang gagal, beliau juga menunjukkan beberapa contoh bangunan di Bali yang berhasil melakukannya sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa arsitek hendaknya tidak memaksakan suatu budaya luar ke dalam bangunan Bali tanpa berusaha mencari cara untuk mengharmonisasikannya.
Tepat pada pukul 13.00, Bapak Gede dari Rumah Intaran memulai presentasi beliau dengan judul Mengapa Berketukangan?, yakni sebuah judul presentasi yang juga pernah dipaparkan beliau beberapa tahun lalu pada kesempatan yang serupa. Serupa dengan Pak Acwin, Pak Gede juga mempresentasikan materinya dengan ringan diselingi beberapa intermezzo berupa humor. Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari presentasi beliau ialah untuk menghasilkan karya arsitektur yang keren, diperlukan orang-orang yang bahagia dalam membangunnya. Usai sesi pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan tanya jawab. Terdapat 3 penanya yang antusias serta kritis. Akan tetapi kedua pembicara mampu menjawab rasa penasaran mereka dengan lancar.
Usai tanya jawab, Pak Acwin, Pak Gede, serta moderator memperoleh plakat sebagai kenang-kenangan. Talkshow berakhir pukul 14.20 WITA dengan pembagian sertifikat kepada seluruh peserta yang hadir.(gita/randy).




































































