Arsitektur sering dipahami sebagai seni merancang bangunan. Namun di balik dinding, atap, dan struktur, arsitektur sesungguhnya menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam: ingatan, identitas, dan sejarah sebuah peradaban. Setiap bangunan lama menyimpan kisah tentang manusia, budaya, dan zaman yang membentuknya.
Semangat itulah yang terasa kuat dalam Forum Rembug Pelestarian ODCB (Objek yang Diduga Cagar Budaya) yang berlangsung pada 23–24 Januari 2026. Forum ini merupakan hasil kolaborasi antara Institut Desain dan Bisnis (IDB) Bali, Universitas Udayana, Undiksha, PTAP CBI, dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).
Lebih dari sekadar pertemuan akademik, forum ini menjadi ruang strategis di mana kampus, profesi, dan pemangku kebijakan duduk bersama untuk merumuskan satu pertanyaan penting:
bagaimana kita menjaga masa lalu agar tetap hidup di masa depan?
Di tengah pembangunan yang terus bergerak cepat, keberadaan bangunan dan kawasan bersejarah sering berada di persimpangan antara dilestarikan atau tergantikan. ODCB—objek yang diduga sebagai cagar budaya—menjadi titik kritis dalam proses ini. Ia adalah warisan yang belum sepenuhnya dilindungi, tetapi sudah mengandung nilai sejarah, arsitektur, dan budaya.
Forum ini hadir untuk menjembatani kepentingan tersebut. Tidak hanya untuk membicarakan aturan dan regulasi, tetapi untuk menyatukan perspektif akademik, profesional, dan kebijakan dalam satu visi bersama: pelestarian yang berkelanjutan dan bermakna.
Dalam diskusi-diskusi yang berlangsung, peserta tidak hanya membahas bangunan, tetapi juga kota, ruang hidup, dan hubungan manusia dengan lingkungannya.
Salah satu kekuatan forum ini adalah pendekatannya yang tidak hanya berbasis teori. Para peserta juga melakukan studi lapangan langsung ke objek-objek ODCB. Mereka berjalan, mengamati, mencatat, dan berdialog dengan ruang.
Di sinilah arsitektur benar-benar terasa hidup. Bangunan tidak lagi sekadar objek, tetapi menjadi narasi tentang waktu. Retakan di dinding, tekstur material, dan tata ruang menjadi saksi bisu perjalanan sebuah tempat.
Bagi mahasiswa dan dosen Arsitektur IDB Bali, pengalaman ini membuka pemahaman baru: bahwa arsitektur bukan hanya soal merancang yang baru, tetapi juga merawat yang lama.
Forum ini juga menjadi momentum penting dalam penguatan jejaring profesi dan institusi. Kegiatan ini dirangkaikan dengan pelantikan pengurus wilayah PTAP CBI, penandatanganan MoU, dan ramah tamah lintas institusi.
Momen-momen ini bukan sekadar formalitas. Ia adalah fondasi bagi kerja kolaboratif jangka panjang dalam pelestarian cagar budaya di Indonesia.
Melalui kerja sama yang terjalin, dunia akademik dan profesi arsitektur dapat saling menguatkan dalam menghadapi tantangan pelestarian di tengah dinamika pembangunan.
Mahasiswa Arsitektur dan Isu Nyata Dunia
Bagi Program Studi Arsitektur IDB Bali, keterlibatan dalam forum ini memiliki makna yang sangat penting. Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pendengar, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang sedang membicarakan masa depan warisan budaya bangsa.
Di sinilah mereka belajar bahwa menjadi arsitek bukan hanya soal membuat desain yang indah, tetapi juga tentang tanggung jawab terhadap sejarah dan masyarakat.
Mahasiswa menyaksikan langsung bagaimana kebijakan, kajian akademik, dan praktik profesional bertemu dalam satu ruang dialog. Sebuah pengalaman yang tidak bisa didapatkan hanya dari buku teks.
Di IDB Bali, arsitektur diajarkan sebagai perpaduan antara desain, konteks sosial, sejarah, dan keberlanjutan. Mahasiswa dibekali untuk tidak hanya berpikir tentang fungsi dan estetika, tetapi juga tentang makna dan dampak.
Forum Rembug ODCB ini menjadi perwujudan nyata dari filosofi tersebut. Mahasiswa melihat bagaimana sebuah bangunan lama bukanlah beban pembangunan, melainkan aset identitas.
Di tengah modernisasi, arsitektur memiliki peran penting sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Pelestarian cagar budaya bukan hanya tentang menyelamatkan bangunan, tetapi juga tentang menjaga hubungan manusia dengan ruang dan budayanya. Bangunan lama sering menjadi titik temu memori kolektif—tempat di mana cerita-cerita lahir dan diwariskan.
Melalui forum ini, para peserta diajak untuk melihat arsitektur sebagai bagian dari kehidupan sosial. Setiap keputusan desain dan pelestarian akan memengaruhi cara masyarakat berinteraksi dengan ruang mereka.
Keterlibatan IDB Bali dalam forum ini menunjukkan komitmen kampus dalam membangun kepekaan sosial dan budaya pada mahasiswanya. Arsitektur tidak hanya diajarkan sebagai keterampilan teknis, tetapi sebagai profesi yang memiliki tanggung jawab etis.
Mahasiswa dilatih untuk peka terhadap konteks, menghargai warisan, dan berpikir jangka panjang.
Ini adalah kompetensi yang semakin penting di dunia profesional, terutama di tengah tantangan pembangunan yang sering berhadapan dengan isu pelestarian.
Forum ini menjadi bukti bahwa IDB Bali bukan sekadar kampus desain dan bisnis. Ia adalah ruang tumbuh bagi calon arsitek yang ingin berkontribusi pada pembangunan yang berakar pada identitas bangsa.
Melalui kolaborasi dengan universitas, asosiasi profesi, dan lembaga terkait, IDB Bali menempatkan mahasiswanya di tengah percakapan penting tentang masa depan arsitektur Indonesia.
Forum Rembug Pelestarian ODCB 2026 mengingatkan kita bahwa pembangunan yang baik adalah pembangunan yang tidak melupakan akar.
Di tengah gedung-gedung baru dan kota yang terus berubah, cagar budaya adalah jangkar yang menjaga kita tetap terhubung dengan siapa kita sebenarnya.
Melalui keterlibatan aktif dalam forum ini, IDB Bali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya mencetak desainer dan arsitek, tetapi juga penjaga nilai dan sejarah.
Karena di balik setiap bangunan tua, ada cerita yang layak terus hidup.
Dan di tangan generasi arsitek muda, cerita-cerita itu menemukan masa depannya.
IDB Bali
Empowering People To Be Creative



















































































